#IndonesiaTanpaJIL adalah gerakan intelektual yg berpondasi pada
pembangunan tradisi ilmu. Gerakan ini berawal dari sebuah hashtag
#IndonesiaTanpaJIL di Twitter yang cukup fenomenal. Mengapa kami katakan
fenomenal, karena dari hashtag itu kita melihat bahwa yang kontra
dengan pemahaman yang dipopulerkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL)
sangat variatif. Dari mulai aktivis dakwah sampai anak-anak muda yang
masih dalam tahap belajar bahkan ‘begajulan’ ikut menyuarakan
penolakannya terhadap JIL. Pekerjaan ini adalah pekerjaan jangka
panjang, bukan sekedar hura-hura sesaat, apalagi pengisi waktu luang.
Oleh karena itu, #IndonesiaTanpaJIL tidak bersandar pada slogan, mission
statement atau demo belaka.
Demo itu perlu, namun pekerjaan di balik layar jauh lebih penting.
Kami menyeru kepada kalangan terpelajar, terutama sekali mahasiswa,
untuk berbagi kepedulian tentang bahaya Islam liberal. Mari kita
gerakkan seluruh umat untuk menumbuhkan kembali tradisi keilmuan kita.
Ramaikan rumah dengan buku, jadikan buku sebagai kawan duduk kita.
Tulislah makalah-makalah dan buku-buku, selenggarakanlah seminar-seminar
dan bedah buku. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Mengapa menggunakan artwork
Artwork atau karya seni. Artwork disini bisa dalam bentuk grafis/foto
atau bahkan video. Kami menganggap inilah salah satu media dari sekian
banyak media lain yang bisa menjadi penyampai pesan yang mudah dipahami
oleh semua kalangan. Dan jangan kita lupa bahwa awal terbentuk JIL
mulanya adalah dari pertemuan para seniman sastra, teater, musik, film,
dan seni rupa. Sehingga dalam menyebarkan pemikiran nyelenehnya mereka
sangat fasih karena menggunakan media seni yang mudah dipahami oleh
masyarakat awam. Media artwork adalah media yang kami pandang pas untuk
menyalurkan emosi dan harus kita akui masih ada beberapa pendukung
gerakan #IndonesiaTanpaJIL yang masih belum bisa menyalurkan nya dengan
pemikiran.
Oleh karena itu artwork kami jadikan sebagai ‘pelampiasan’, tentu
dengan cara yang cerdas bukan caci maki personal2 JIL. Kita harus mulai
bisa memahami cara kerja mereka, pernahkah anda melihat/mendengar mereka
mencaci fisik ulama yang lurus ? Yang mereka kritik selalu
pemikiran/pendapat sang ulama tsb. Sementara sebagian dari kita justru
sebaliknya. Berteriak sambil mencaci maki pemikiran mereka apalagi
pribadinya tidak akan membuat pemikiran nyeleneh mereka berhenti.
Edukasi dan edukasi diimbangi dengan kesabaran yang tinggi, insya Allah
akan menuai hasil yang jauh lebih efektif. Amin ya Rabb !
Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran bukan dengan sekedar hujatan
dan caci maki. Semoga bisa dipahami bahwa ini bagian dari proses
pembelajaran kita semua untuk pada akhirnya nanti bisa mematahkan
serangan pemikiran mereka dengan pemikiran pula. Bukan dengan caci maki
personal apalagi fisik.”
“Kalau kritikan kepada pribadi
seseorang lebih dominan daripada kritikan terhadap pemikirannya
seseorang itu, maka inilah ciri bahwa hal tersebut hanyalah hawa nafsu
yang dibungkus dengan kritik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak
mencela kemunafikan, tapi sedikit sekali beliau menyinggung tentang
orang-orang munafik secara personal, padahal mereka melakukan sebagian
kemungkaran dengan terang-terangan.”
[Dr. Abdul Aziz Tharifi, Kepala Bidang
Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA]

